Selasa, 28 April 2009

Hutan Mangrove

Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjo yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.

Hutan mangrove juga merupakan habitat bagi beberapa satwa liar yang diantaranya terancam punah, sepertiharimau sumatera (Panthera tigris sumatranensis), bekantan (Nasalis larvatus), wilwo (Mycteria cinerea), bubut hitam (Centropus nigrorufus), dan bangau tongtong (Leptoptilus javanicus, dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran.

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika.

Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).

Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.

Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.Jenis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah:

1. Jenis tanah.

Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut.
Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang.

2. Terpaan ombak

Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar.

3. Penggenangan oleh air pasang

Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya; bahkan terkadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.

Senin, 13 April 2009

Hutan di Indonesia

Kerusakan Hutan di Indonesia

Hutan adalah salah satu bagian terpenting dari alam yang juga menentukan kehidupan manusia di dunia ini. Bisa kita katakana, hutan adalah “jantung dunia” . Di Indonesia terdapat beraneka ragam hutan tersebar di pulau-pulau seperti di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lain. Kegunaannya pun penting bagi kehidupan negara Indonesia. Hampir dari 40% hutan tropis di dunia berada di Indonesia. Ini merupakan presentasi yang besar bagi suatu Negara seperti Indonesia. Ini juga merupakan keberuntungan yang harus disyukuri bagi masyarakat Indonesia. Namun, banyak pihak-pihak yang menyalahgunakan hutan untuk kepentingan pribadi.
Indonesia kaya akan sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Banyaknya sumber daya ala mini membuat banyak negara tertarik untuk membeli dan merupakan sumber ekonomi yang terbesar di Indonesia. Salah satunya adalah hutan-hutan yang ada di Indonesia.
Hutan-hutan tersebut banyak memiliki kayu-kayu berkualitas yang laku di pasaran internasional seperti misalnya jati, dammar, dan, rotan. Bahkan ada yang dijadikan sebagai cagar alam seperti di Ujung Kulon, Pulau Komodo, hutan karet di Bandung, dan sebagainya. Ini yang menjadikan hutan-hutan di Indonesia sebagai sumber devisa negara.
Namun sangat disayangkan, masyarakat Indonesia tidak memikirkan manfaat lain dari hutan yang sangat penting untuk kelangsungan hidup dunia ini, antara lain:
1. sebagai paru-paru dunia
2. pencegah erosi
3. tempat tinggal hewan dan tumbuhan
4. pengatur suhu bumi

Masyarakat Indonesia hanya memikirkan keuntunngan pribadi, memanfaatkan hutan tanpa memikirkan akibatnya bila hutan terus-menerus ditebang. Kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya salah pemerintah saja. Sekitar 75% adalah akibat ulah rakyat kecil. Hutan di Indonesia mengalami kerusakan 3 juta hektar per tahun. Karena itu, masyarakat dan pemerintah perlu mendiskusikan bersama bagaimana caranya untuk menyelamatkan hutan-hutan di Indonesia ini.
Kerusakan hutan di Indonesia bahkan sudah mendapat perhatian internasional. Keadaan hutan Indonesia yang sudah dalam kondisi SOS (save our soul/selamatkan jiwa kami) perlu mendapat tindakan yang tegas dari pemerintah kita. Jika dibiarkan begitu saja, maka akan banyak pulau-pulau di Indonesia yang mengalami kekeringan. Kemungkinan bumi untuk bernafas pun akan makin menyempit. Karena itulah, perlu kita pikirkan bersama cara menjaga dan merawat hutan untuk mencegah kemungkinan terburuk bagi negara kita dan bumi ini.